Senja Memerah

Sumber gambar: instagram.com/semacam.hayalan_

“Nay, sudah berulang kali Abang bilang. Kalau memang jodoh itu tak akan ke mana.” Gandi mulai bersungut melihat tingkah adik bungsunya.

Langit mulai melukiskan warna jingga. Nyiur bergoyang mengikuti lantunan sang bayu. Riuh senja di ufuk barat pulau kecil tak menggerakkan satu lekuk di raut wajah Naya.

Pandangannya masih lurus ke arah tenggelamnya sang suarya. Berdiri di dermaga tempat perahu yang selalu dia nantikan pulangnya berlabuh. Sudah hampir empat purnama dia menanggung rasa ini sendiri, menanti kepastian yang dinanti.

Gandi yang mulai lelah dengan sikap keras kepala sang adik, mulai mendekatinya dan menarik tangannya. “Cukup sudah! Abang tak ingin adik kesayangan Abang berbasuh peluh pada matanya setiap bulan purnama tiba.”

“Jangan, Bang! Ampun!” Naya mencoba melawan tarikan si kakak pada tangan kanannya.

Gandi yang menyadari sedari tadi Naya memegang perutnya, dia pun melepaskan tangannya.

“Kamu … jangan-jangan …” Matanya memerah, giginya beradu, kedua telapak tangannya mengepal. Naya hanya bisa menunduk menahan isakan tangis sambil mengelus perutnya.

Jingga yang terlukis di langit senja itu begitu indah, membuat seekor lumba-lumba melompat ke permukaan kegirangan. Namun, tidak dengan Naya.

Bantul, 12 Agustus 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s