Cairan Hitam Penenang

Sumber gambar: instagram.com/fikiriramadan

“Tang, jadikan ntar siang di tempat biasa.” Seorang lelaki tengah mengisap sebatang rokok yang diapit di antara jari telunjuk dan tengah tangan kanan, sementara tangan kiri memegang gawai yang ditempelkan di telinga kirinya. “Aih, jangan bahas lagi lah masalah si Udin itu. Kemarin kan udah dibilang kalau kita cuma main-main aja.”

“Bang, ini kopinya.” Seorang perempuan berdaster bunga-bunga muncul dan meletakkan segelas cairan hitam pekat di hadapan lelaki yang masih tengah sibuk berbincang dengan rekan di seberang.

“Makasih ya, Sayang.” Bibir sang lelaki terlukis tulus di wajahnya yang garang. “Oh ya, nanti malam Abang keluar lagi ya, gak apa kan?” Tangan kanannya meletakkan putung rokok yang tinggal separuh di bibir asbak dan menyahut telinga cangkir berisikan cairan cinta buatan sang istri.

“Iya, gak apa, Bang. Salam buat semua, ya?” Dengan mengelus perut yang semakin membesar, sang istri melontarkan senyum ke arah sang suami dan masuk ke dalam rumah.

“Tang, istriku udah kasih ijin. Tinggal kasih kode ajalah buat yang lain. Aku tunggu di tempat biasa.” Sambungan dimatikan. Sembari menikmati secangkir kopi cinta, lelaki yang biasa dijuluki Bang Rahmat itu menghisap habis putung rokok yang tersisa di serambi depan rumah kontrakannya.

*

“Mat, katanya kau udah gak main lagi ya?” Lelaki dengan suara parau dan raga yang sedikit berlemak menyapa Rahmat yang sudah duduk dengan secangkir cairan hitam di hadapannya dan sebatang rokok yang sudah habis setengah di tangan kanannya. Dia menggeret kursi di seberang Rahmat keluar dari sarangnya di bawah meja dan mengeluarkan gawai dari saku sebelum duduk dan memanggil pelayan untuk memesan cairan hitam yang sama.

“Ah, elo kaya gak tau Rahmat aja, Ton.” Atang, sahabat Rahmat sejak kecil yang duduk di sebelah Rahmat angkat suara. “Sejak berbini, dia jatuh cinta sampai mati sama bininya. Ngapa-ngapain kudu ijin bininya.” Asap mulai mengepul di antara ketiganya.

“Ah, apaan sih, Tang. Buka dapur orang aja deh.” Senyum merekah di antara kepulan asap yang keluar dari bibirnya yang menghitam.

“Tapi emang bener kan? Gue bukan tukang gosip ala emak-emak keles.” Tangan kanan Atang meniru gerakan para waria yang melambai-lambai, sontak Rahmat dan Toni tertawa.

“Ngomongin siapa coba kalian ini. Ngomongin gue lagi?” Sosok lelaki muncul dari belakang Rahmat. Udin.

“Nah kan, sensitif banget ini cowok atu. Jangan gitu lah, kita kan plen.” Atang masih menggunakan nada waria menimpali sindiran Udin.

“Isi kotak biru lo masih penuh, Mat? Gue minta ya, lagi apes nih.” Udin yang sudah duduk di sebelah kiri Rahmat tanpa menunggu jawaban Rahmat, langsung menyahut kotak biru berisikan batang rokok di hadapan Rahmat.

“Apes kenape? Kagak dapet jatah rokok lagi dari bini lo?” Atang nerocos dengan sedikit tawa, disambung dengan kepulan asap keluar dari mulutnya.

“Kalian sih, coba kalau gak begitu sering keluar begini. Gak apes-apes banget gue, mana orderan lagi dikit gara-gara inspirasi mampet.” Udin menyalakan sebatang rokok di mulutnya, mengisapnya perlahan dan menghembuskan asap putih tipis ke angkasa.

“Itu karena elonya aja yang belum servis otak. Coba sering-sering panggil jasa septik teng, gak bakalan mampet.” Atang mencelos. Toni dan Rahmat langsung menyambut dengan tawa. Udin yang tengah menyeruput cairan hitam inspirasinya sedikit terbatuk.

“Udah kasihan, dari kemarin dia dikerjain mulu.” Rahmat menengahi di sela tawanya. Dia menyahut cangkir di hadapannya dan menyeruput pelan isinya. ‘Masih enak buatan istriku. Ah, jadi kangen.’

***

Bantul, 16 Agustus 2019

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s