Dilema

“Ra, bulan depan kan udah aniversary elo sama Rendi. Udah ada planning ke mana?” Anita, sahabatku sejak diterima di perusahaan, tiba-tiba memecah kesunyian di antara tumpukan kerjaan.

“Eh, yang aniversary kan gue, kok jadi elu yang ribut duluan sih?” Senyum terlukis di sela suara aduan jemari dengan tuts keyborad di hadapanku.

“Ya sebagai sahabat terbaik elo lah. Kan gak pengennya elo kaya si Ratna tuh. Udah gak ada yang ingetin dia, gak ada yang kasih saran ke dia, eh, ujungnya gak ada perayaan aniversary sama suaminya. Kan ngenes ngeliatnya.” Anita mengikik pelan sambil melirik perempuan di seberang meja kerja kami yang berdampingan.

“Yee, emang dasarnya suami dia dinas di luar negeri keles. Mau ngingetin apaan juga kagak bakal terlaksana.” Pandanganku tak terlepas dari layar monitor di hadapanku.

“Iya juga sih, ya.” Anita mendehem untuk menghentikan tawanya. “Lagian kayanya elu santai banget kaya gak inget gitu sih.”

“Heh, Miss Bawel. Kelarin kerjaan elu tuh.” Aku menutup berkas kesekian yang sudah aku selesaikan ke tumpukan di sebelahku. “Pikirin dulu kerjaan elu ketimbang ngurusin hidup gue.” Aku menjulurkan lidah mengejeknya yang masih dikelilingi berkas kerjaan.

“Iya dah. Lha, elu ini mau ke mana?” Mencoba menghentikan ketika melihatku yang berdiri dari kursi kerja.

“Mau ke pantry. Telinga gue sepet kamu sewot mulu.” Aku mengikik perlahan dan berlenggang ke pantry mengacuhkan suaranya yang super penuh energi hari ini.

‘Ah, aniversary, ya? Penting apa dirayain? Toh, aku sama Rendi bukan pasangan suami istri.’ Pikiranku melayang ke berbagai memori bersama pria yang hampir dua tahun ini menemani keseharianku walau lewat pesan dan telefon karena kami sama-sama pekerja keras.

Teringat kenangan saat berada di pulau kecil saat pertama bertemu dengannya liburan musim panas. Ketika tanpa pikir panjang dia menyatakan perasaannya padaku, padahal sejatinya kita baru saja bertemu. Napas panjang dan berat kuhembuskan mencoba tak terlalu memikirkan yang telah lewat.

“Miss Clara, nanti kopinya keburu dingin kalau terus-terusan diaduk.” Suara pria di belakang membuyarkan lamunanku.

“Oh, Jonny. Maaf.” Aku mengangkat cangkir kopiku dan melangkah keluar pantry.

“Akhir pekan boleh kosongkan waktunya? Ada yang ingin aku bicarakan dengan orang tuamu.” Langkahku terhenti. Aku membalikan badan dan mengangkat suara berusaha untuk menolak. Tapi sosok pria yang sudah lama menarik perhatianku itu sudah menjauh.

Sosok Jonny menarik perhatian sejak aku diterima di erusahaan ini. Tapi karena aku tahu dia banyak dikelilingi teman perempuan, aku pun mundur dan berpaling ke Rendi yang menyatakan perasaannya.

Aku pun mempercepat langkah kembali ke meja kerja untuk meminta pendapat Anita. Namun, setelah kuletakkan cangkir kopi tak jauh dari gawai, tiba-tiba benda itu bergetar dan satu pesan muncul.

‘Dari Rendi.’ Aku pun membuka kunci layar dan membaca pesannya. Badanku terduduk lemas, rasa bingung berperang di hati dan pikiranku. Layar di gawaiku masih menyala dan ada pesan tertulis di layar.

‘Clara, aku dan orang tua ke rumah akhir pekan nanti ya. Semoga ini permulaan jalan terindah untuk kita.’

***

Bantul, 20 Agustus 2019

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s