Senyum Jingga Nayomi

Netranya mengabur. Pipi yang biasa bersemu merah kini basah karena air mata. Tak ada lagi tawa bahkan seberkas senyum yang biasa tersungging di bibir bergincu jingga. Hanya terlihat bergetar menahan isak agar tak memecah kesunyian malam.

Empat purnama sudah dia menghabiskan waktu di rumah sederhana berdinding anyaman bambu. Sendiri dalam penantian pada seorang lelaki.

Bukan. Ia bukan menanti sosok suami. Karena memang belum ada janji suci terucap dari lelaki yang pernah didambanya itu. Hanya sesosok lelaki yang dia anggap sebagai pahlawan dari kejamnya kehidupan di antara gunungan plastik di pinggiran kota.

Sumber : Pinterest

Mungkin aku terlalu berharap lebih. Begitulah dia selalu mencoba menenangkan pertarungan dalam batinnya. Tapi dia tak berjanji untuk kembali, bukan? Sisi lain dari batinnya mencoba menabuh genderang perang. Napasnya berhembus berat dan panjang, mencoba mendamaikan kedua kubu yang memporak-porandakan keheningan malamnya.

Sekelebat memori melintas. Ketika senja di musim hujan membuat lingkungan terdekat dari penampungan sampah menjadi korban aroma sedap sisa pembuangan. Itulah yang dirasakan Nayomi, gadis 17 tahun yang hidup bersama dengan beberapa gadis remaja yang bernasib sama, tak memiliki orang tua.

Bisa dibilang bahwa mereka adalah ‘warga pembuangan’, tidak tahu siapa orang tua mereka. Nayomi dan remaja lain dibesarkan oleh orang-orang dekat pembuangan yang mengharuskan mereka juga turut memunguti sampah sejak kecil. “Kalau kita tidak melakukan ini, mereka tidak akan menampung kita lagi.” Begitulah penjelasan singkat remaja tertua.

Miris memang. Tapi remaja seperti Nayomi juga tidak bisa menyalahkan orang yang membesarkannya. Karena berkat merekalah dia bisa berjumpa dengan lelaki yang selalu mendatangi lingkungan pembuangan dengan berbekal tas dan peralatan aneh.

“Siapa namamu?” Pria yang sejak dari kedatangannya mencuri perhatian Nayomi ternyata mengamati gerak-gerik Nayomi yang juga mengamatinya.

“Nayomi.”

“Nama yang indah.” Senyum tulus dan menyejukkan terlontar hanya untuknya. Nayomi membalasnya. “Kenapa tinggal di sini?” Pertanyaan yang membuyarkan senyum tulus Nayomi.

“Karena memang ditinggal di sini.” Nadanya ketus. Seakan ingin menyalahkan sepasang kekasih yang membuatnya tinggal di sini.

“Jangan menyalahkan keadaan.” Suara yang berat namun menenangkan membuat Nayomi menatap si empunya lekat-lekat. “Seharusnya bersyukur karena di luaran sana banyak yang akhirnya mati kelaparan karena tidak ada yang mengurus.” Senyum teduh terlontar seakan siraman air sejuk ke hati Nayomi yang panas.

“Atau kamu berkenan hidup dengan saya?” Nayomi tersentak. “Saya tidak bermaksud jahat. Hanya saja gadis secantik dirimu gak seharusnya hidup di lingkungan seperti ini.” Senyum teduh itu tersungging lagi. Nayomi tertunduk malu. Perlahan tapi pasti dia menganggukkan kepala.

Keesokan harinya, lelaki itu menjemputnya. Banyak yang melarangnya, termasuk orang-orang yang mengasuhnya.

“Kamu jangan mudah tertipu. Dia hanya akan memanfaatkanmu.” Namun sayang, seperti terkena guna-guna Nayomi hanya membalas setiap larangan dan teguran dengan senyuman.

Hingga sampailah Nayomi pada sebuah rumah berdinding anyaman bambu yang rapi dan tertata di pinggir jalan yang cukup ramai. Tidak seperti bayangan Nayomi yang akan tinggal di rumah mewah, tapi setidaknya di sini lebih baik daripada di tempat pembuangan.

“Maaf hanya sederhana. Selama aku melakukan penelitian, memang tidak ingin terlalu banyak menghamburkan uang untuk tinggal di rumah bagus.” Tetiba suara di depan rumah semakin ramai. Ternyata sudah memasuki jam rawan macet untuk daerah dekat perkotaan ini. Deru mesin kendaraan yang menanti giliran melintas mulai mensamarkan pendengaran Nayomi.

Tanpa disangka netranya tiba-tiba gelap. Ada sesuatu menutupi matanya. Nayomi mencoba teriak, namun tangan yang kuat menutup mulutnya, sedangkan tangan lain memeluknya erat dari belakang.

“Kamu cantik, Sayang.” Badan Nayomi mulai lemas, tangan dan kaki mulai tak ada tenaga. Dia hanya merasa badannya lemah tak berdaya, terduduk dan akhirnya tak sadarkan diri.

Kicau burung yang biasa membangunkannya, kini berganti dengan deru mesin bersautan di depan rumah. Tak menyangka jika mengenang memori tentang pahlawan hidupnya menguras tenaganya.

Langkahnya gontai. Dia baru ingat kemarin dia belum memasukkan apapun ke dalam perutnya. Gemerincing rangkaian besi menemani langkah gontainya menuju meja tak jauh dari pembaringannya. Tangan lemahnya mulai meraba dan menyambut sekerat roti yang terhidang dan memasukkan perlahan ke dalam mulutnya.

Belum juga selesai menghabiskan jatah makannya hari itu, pintu rumah terbuka. Langkah kaki berat yang dia rindukan selama ini menghampirinya. Senyum tulus tersungging, Nayomi mencoba berdiri untuk menyambut sosok yang dia rindukan. Namun sayang, rangkaian besi menahan langkahnya.

“Hallo, Nayomi sayang, merindukanku?”


Bantul, 14 September 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s