Jati Diri Tulisan Seorang Penulis

Bagi setiap penulis pastilah memiliki visi dan misi dalam rangkaian aksara yang menjadi buah pikirannya. Sependek apapun itu, berbentuk apapun itu. Karena pada sejatinya menulis adalah bagian dalam mencetak sejarah akan keberadaan diri.

Mungkin si penulis pada dunia kenyataan bukanlah seseorang dengan gelar akademik atau bahkan memiliki darah keturunan ningrat yang dapat mengukir nama dengan mudahnya dalam sejarah hidupnya. Namun, melalui rangkaian aksara setidaknya akan ada bukti keberadaan dirinya dalam menyampaikan buah pikir dan diharapkan dapat bermanfaat bagi orang lain.

Begitulah apa yang saya rasakan sebagai salah satu ibu rumah tangga yang sama sekali tidak berkiprah di bidang akademik yang saya tinggalkan setelah menyandang gelar sarjana. Saya pun lebih memilih untuk terfokus dalam mendidik karakter buah hati semenjak kehamilan anak kedua. Dari keputusan inilah saya menyadari bahwa saya hanya pencetak peradaban, tapi di lain sisi ingin berbagi manfaat pada dunia.

Jika ditanya bagaimana saya memulai itu semua, hanya berawal dari hobby membaca dan ingin menuangkannya ke dalam bahasa sendirilah saya mulai menulis. Kemudian bergabung dengan komunitas yang sama-sama bernapas dibidang kepenulisan hingga akhirnya buku antologi pertama non fiksi saya lahir di tahun 2012. Ya, disela saya mengerjakan tugas akhir saya bisa melahirkan sebuah buku.

Dengan awal sebuah kecintaan terhadap menulis, buku antologi non fiksi pun terus lahir hingga buku keempat, di mana dalam buku ini saya mengikuti proyek kepenulisan dengan Ahmad Rifa’i Rifan di awal tahun 2018. Namun, bukan berarti saya pun tutup mata dengan genre fiksi. Di buku antologi kelima hingga hampir menembus angka 30 inilah saya lebih banyak bergelut di genre fiksi. Selain bergelut di proyek antologi genre fiksi, di tahun 2017 saya pun juga terjun di artikel non fiksi untuk media massa nasional.

Mungkin akan banyak bertanya mengapa tidak fokus pada salah satu genre saja? Jika ditelusuri dari ilmu marketing kepenulisan perihal branding seorang penulis, posisi saya mungkin seperti ‘kutu loncat’. Tapi dilihat dari bagaimana saya ingin menebarkan manfaat dari ilmu yang saya dapatkan di berbagai kelas online, baik di bidang kepenulisan, digital marketing, maupun desain grafis, menulis di kedua genre tidak ada salahnya, bukan?

Di mana dengan genre fiksi saya bisa menyampaikan berbagai amanah tentang kehidupan yang saya alami ataupun amati di lingkungan sekitar. Karena tentu tidak semua orang dapat menerima motivasi kehidupan dari aliran tulisan non fiksi, untuk itulah saya mengambil genre fiksi untuk menyampaikan hal tersebut.

Sedangkan dengan non fiksi, saya bisa berbagi pengalaman pribadi maupun materi dari berbagai sumber (seminar, kelas online, buku, dll). Tentunya dalam bentuk artikel yang lebih mudah diserap dan bahasa ringan yang siapapun dapat memahami isinya.

Jadi, saya berharap dengan berbagai pertimbangan ini, jangan sampai mengira bahwa orang yang menulis di kedua genre adalah tipe ‘kutu loncat’. Bisa jadi memang dengan menulis di kedua genre ini, si penulis bisa menebar manfaat dan ilmu ke banyak orang di berbagai bidang yang dikuasainya.

Salam literasi. Salam berdaya.

Bantul, 17 September 2019


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s