Sweet Merry

Linda menghela napas panjang. Malam yang dingin akibat hujan salju yang turun sejak beberapa hari lalu membuat perapiannya tak kunjung padam. Untung kemarin sudah sedia banyak kayu untuk tungku tua ini. Kening di wajahnya kembali berkerut memikirkan bagaimana dia bisa menghemat uang yang dititipkan oleh suaminya sebelum berangkat dinas bulan lalu.

Ah, sudahlah. Seharusnya sejumlah itu cukup untuk kami hidup sebulan. Linda mengangkat ketel yang sudah memberikan tanda air yang dia panaskan sudah mendidih. Semoga hujan salju ini berhenti esok hari, kasihan Merry, sudah menanyakan kapan waktunya masuk sekolah. Napas berat kembali berhembus dari hidungnya bersamaan dengan dua sendok daun teh favoritnya masuk ke dalam teko berwarna merah.

Linda mengambil cangkir teh berwarna merah dari lemari di dekat meja makan. Mulutnya yang terkatup melantunkan nada lirih. Terdendang lagu kenangan saat pertemuan pertama bersama Charlie, suaminya.

Mom.”

Linda terkejut. Hampir saja cangkir di genggaman tangannya terlepas. Dia menoleh ke belakang. Tampak gadis mungil berambut panjang hitam lurus tengah berdiri sembari mengusap matanya yang sayu.

“Merry?” Linda meletakkan cangkir merah di meja makan, lalu menghampiri Merry yang masih sibuk mengusap matanya. “Mimpi buruk lagi?” Linda mengusap rambut di atas kepala gadis ber-sweater merah, dan memeluknya.

“Bolehkah aku bergabung denganmu? Cuaca sangat dingin.” Merry menengadahkan kepalanya menatap cangkir dan teko teh berwarna merah di atas meja. Linda melepas pelukannya dan mengangguk.

“Kita minum teh sembari makan choco cookies kesukaanmu. Bagaimana?” Linda menyunggingkan senyum, matanya ikut menyipit. Terlihat senyum Merry terkembang dan mengangguk semangat.

 Baca juga cerita pendek "Dilema" 

Dua cangkir teh panas terseduh di meja. Linda menambahkan satu kotak gula untuk cangkirnya, dan susu pada cangkir teh Merry. Linda mengantarkan dua cangkir merah itu ke depan perapian. Merry sudah duduk dengan wajah ceria dan mata berbinar di kursi milik Charlie.

“Aku ambilkan selimut untukmu, ya?” Linda menawarkan bantuan setelah meletakkan beberapa cookies di dekat teko. Merry yang sudah menyahut choco cookies dan menggigitnya, mengangguk penuh semangat. Linda berlalu ke kamar untuk mengambil selimut kesayangan Merry. Selimut berwarna hijau kebiruan bermotif bintang.

Mom, kapan Daddy kembali?” Suara imutnya membuat Linda sejenak terhenti saat ingin menempelkan cangkir merah miliknya ke arah bibir. Senyum terkembang di bibirnya.

“Sabar ya, Merry. Ada kalanya cuaca seperti ini membuat perjalanan seseorang terhambat.” Linda mencoba menenangkan perasaan khawatir Merry. “Kita bantu doa agar hujan salju ini berhenti esok pagi, ya.” Senyum Linda mencoba menghibur rasa penasaran Merry. Merry menyambutnya dengan senyum ceria, dia kembali disibukkan dengan cangkir teh susu yang ada di tangan kanannya.

Linda menatapnya lekat. Gadis kecil malang yang telah banyak mengubah dunianya dan Charlie dari sebuah bentuk keegoisan dalam berhubungan. Sekelebat memori tiga tahun yang mengulum batinnya. Ketika itu badai salju baru selesai, Linda dan Charlie menyambut akhir tahun dengan berkas-berkas dari pengadilan agama. Ya, baru setahun menikah dan ada ketidakcocokan di antara mata mereka. Perpisahan adalah solusi yang mereka ambil.

Baca juga cerita pendek "Louis Vuitton Khaki Green"

Dalam perjalanan mengantar berkas yang sudah ditanda-tangani masing-masing pihak, Linda dan Charlie berangkat menuju pengadilan. Walau perceraian di depan mata, mereka mau tak mau masih harus berbagi kendaraan bahkan rumah bersama.

Mobil sedan perak milik Charlie berhenti di perempatan lampu merah. Tak ada kata keluar dari masing-masing pihak sejak keluar dari rumah, kecuali deru mesin mobil yang sedikit meraung mengingat usianya yang cukup tua. Napas berat dan panjang keluar dari hidung Linda. Tatapannya memandang acuh keluar jendela, tangan kanannya bersandar ke pintu dan menyangga mukanya.

Deru mesin menyahut pedal gas Charlie hingga akhirnya berhenti mendadak ketika pedal rem diinjak tiba-tiba. “Ada apa lagi, sih?” Linda yang tersentak mengalihkan perhatian ke arah lelaki yang memporak-porandakan hatinya selama ini. Charlie tidak membalas tatapan Linda, pandangannya lurus ke depan. Linda pun mengikuti tatapan Charlie. Seorang gadis dengan rambut hitam, lurus dan berpakaian serba merah maroon sedang berdiri terpaku di hadapan mobil Charlie. Tatapannya tampak terkaget.

Tanpa pikir panjang Linda membuka pintu mobil dan menghampirinya. Linda meraih gadis mungil itu dan memeluknya. “Kamu tidak apa-apa, my dear? Ada yang terluka?” Linda merasa gejolak aneh ketika mendekati si gadis berpipi merah muda itu. Gadis yang tadinya terpaku, menolehkan mukanya ke arah Linda setelah Linda melepaskan pelukannya. Tersenyum.

“Apakah Ibu mau membeli choco cookies saya? Kami di panti sedang menggalangkan dana untuk keperluan tahun baru,” suara manisnya melelehkan hati Linda. Apakah ini pertanda harus ada dia?

Pertemuan dengan gadis manis itu memenuhi hati dan pikiran Linda. Hingga mobil perak Charlie berhenti di depan gedung putih tujuan mereka. “Kamu tidak ikut turun?” Charlie akhirnya angkat suara. Linda terdiam, ada gejolak yang berkecamuk dalam hatinya. “Linda?”

“Bagaimana jika mengadopsi anak tadi dan lupakan apa yang aku katakan padamu kemarin?” Keputusan Linda membuat kerut di kening Charlie terlihat jelas. “Aku tahu aku keterlaluan kemarin, memutuskan segalanya sendiri. Siapa tahu sosok gadis tadi dapat mengubah kondisi kita, mendamaikan kita semua.” Mata Linda berkaca-kaca menjelaskan keinginannya. Ternyata masih ada cinta untuk Charlie dalam hatinya.

Charlie tampak menghela napas, menatap wanita yang selalu mencuri hatinya, baik kebiasaan baik maupun buruknya. Hingga detik ini pun permintaannya meluluhkan keegoisannya. Charlie menyahut tangan Linda, menggenggam erat, menatapnya lembut, dan tersenyum.

“Aku tak pernah berhenti mencintaimu, kau tahu? Bahkan sampai kau mengutarakan pernyataan menyakitkan kemarin, aku selalu memaafkanmu.” Mata Linda semakin berkaca-kaca, tak terasa pipinya basah. Jemari Charlie mengusapnya. “Aku tahu kita belum bisa memiliki sosok kecil itu, tapi setidaknya menghadirkan kakak tidak ada salahnya, bukan?”

Senyum cerah dan haru terukir di wajah Linda. Tak ada kata yang bisa dia ucapkan sebagai rasa terima kasih dan maaf kepada lelaki yang selalu menerima baik dan buruknya selama ini. Hanya isak bahagia yang dapat menyampaikan semua perasaannya.

Mobil sedan perak pun berbalik arah ke sebuah gedung putih di belakang gedung pengadilan agama. Ada papan besar yang tertanam di halaman depan dan bertuliskan, “Panti Asuhan Stanley.”



One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s