Petualangan Naya

“Nay, bukankah ada janji dengan Lia hari ini?” Suara Ibu dari arah dapur mengingatkan seorang gadis kecil berambut ikal gelap yang sedang sibuk dengan tumpukan mainan bersusunnya. Tidak ada balasan, Ibu menuju ke arah ruang keluarga di mana gadis manis itu berada. “Nay.”

“Ah, Ibu. Lihat! Aku baru saja selesai membangun jembatan ini,” sinar mata riang menunjukkan hasil kerja kerasnya siang itu kepada wanita kesayangannya.

“Wah, hebat sekali. Tapi jangan sampai lupa akan janji dengan Lia hari ini, ya?” Ibu melontarkan senyum bangga ke anak semata wayangnya.

“Tentu, Bu. Dia akan kemari sore ini. Kami akan berburu hewan malam?” Gadis dengan senyum manis itu kini duduk menghadap ibunya.

“Berburu?” Ibu tampak sedikit khawatir.

“Kami akan mengamati mereka dari rumah pohon di halaman belakang. Jika Ibu mau, Ibu bisa bergabung bersama kami.” Naya kini menyunggingkan senyum termanis dengan rentetean gigi putih ke arah ibunya.

“Tentu Ibu mau. Pasti sangat menyenangkan bisa mengamati hewan apa saja yang aktif di malam hari, bukan?” Ibu duduk di hadapan Naya dan mengelus rambut ikalnya. “Tapi jangan lupa selesai bermain, semau ini dibereskan, ya?”

“Hihi, tentu, Bu. Aku akan membereskannya.” Naya kembali tersenyum sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.

Senja pun tiba, pintu rumah terdengar diketuk. Naya bergegas menuruni tangga dari kamarnya di lantai dua. Kaki kecilnya yang riang berjalan sedikit melompat menuju pintu rumah.

“Lia. Yuk, masuk. Kita langsung ke halaman belakang, ya?” Naya mempersilakan teman bermainnya sejak kecil untuk mengikutinya menuju rumah pohon kesayangannya.

“Wah, kelinci!” Suara Lia riang melihat salah hewan kesayangannya menjadi penghuni halaman belakang rumah Naya.

“Kamu suka kelinci?” Naya mengambil sepotong wortel dan memberikannya pada sepasang kelinci kesayangannya.

“Suka sekali.” Mereka berdua pun menikmati senjanya dengan mengamati sepasang kelinci Naya yang menikmati makan malamnya sambil berbaring di rumput segar.

“Nay, Lia! Waktunya minum teh.” Suara Ibu dari arah dalam rumah.

“Baik, Bu.” Naya bangun dan menggandeng tangan Lia. “Ibu sudah mempersiapkan ice lemon tea kesukaanmu.” Lia pun mengangguk dan mengikuti langkah Naya.

“Nay, sepertinya Ibu akan ikut kalian mengamati hewan malam. Boleh, kan?” Ibu menatap ke arah anak perempuan kesayangannya.

“Boleh dong, Bu. Apalagi sambil dibawakan ginger bread dan susu hangat. Ya kan, Lia?” Naya tertawa kecil. Lia menyambut dengan senyum.

“Wah, persyaratan yang berat, ya? Tapi baiklah. Akan Ibu bawakan ekstra fudgy cookies kesukaan kalian.” Serentak dua gadis mungil itu bersorak senang.

Pengalaman pertama mereka dalam mengamati hewan malam sangatlah menyenangkan. Ibu menemani mereka sambil memberikan penjelasan tentang kehidupan hewan malam dan bagaimana kebiasaan mereka di siang hari. Ditemani secangkir susu hangat, ginger bread dan fudgy cookies, kedua gadis kecil ini memperhatikan langit yang mulai penuh dengan bintang.

Hingga sesosok hitam mulai terbang dekat dengan rumah pohon. Mereka pun mengamati dengan teliti. Ternyata seekor kelelawar. Walau remang, namun mereka dapat melihat bagaimana hewan berwarna hitam itu terbang mendekati deretan lampu neon rumah pohon Naya.

“Terimakasih ya, Bu. Atas pengalaman yang hangat malam ini,” ujar Naya sambil menarik selimut sebelum akhirnya terlelap dalam mimpi.


Bantul, 23 September 2019

Sumber gambar ilustrasi Ela Smietanka.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s