Seruling Hutan Elly

“Hey, Tom! Malam ini jadi kan?” Seorang gadis berambut ikal menepuk pundak seorang anak lelaki yang tengah sibuk dengan sebuah karung di hadapannya.

“Au! Kenapa harus menggunakan tenaga lelaki sih?” Anak lelaki bernama Tommy mengelus bekas tepukan gadis berambut ikal berwarna coklat kemerahan, Wendy.

“Segitu sakit? Jangan lemah, Tom.” Wendy tampak mulai menggoda teman main sejak kecilnya itu. Namun sayang, lelaki yang diajak bicara semakin sibuk dengan kumpulan barang bekas yang memenuhi karungnya. Wendy mengerucutkan bibir.

“Wendy, Tom. Siap untuk malam nanti?” Wendy dan Tommy menoleh ke arah datangnya suara. Seorang wanita tengah berdiri dengan setelan jeans biru dan kaos putih mendekati abu-abu karena kumalnya, tak ketinggalan sebuah dasi biru muda terikat di lehernya. Kakak Hanzel.

“Tentu kami siap, Kak.” Tommy bersuara lantang dengan wajah kemerahan. Wendy menahan tawa.

“Baik kalau begitu. Begitu aku selesaikan pekerjaanku di toko roti, kita bertemu di pinggir hutan.” Kakak Hanzel memanggul sebuah karung bertuliskan terigu dan masuk melalui pintu belakang sebuah toko roti yang tak jauh dari tempat mereka bertiga bertemu.

“Kau tahu, setiap perjalanan yang diceritakan Kakak Hanzel selalu membuat aku semangat melakukan pekerjaan ini. Agar dapat membantu keluarga dan bisa terbebas dari jeratan Pak Smith, si rentenir.” Tommy tampak bersemangat dan tak sabar menanti pertemuan nanti malam bersama Kakak Hanzel. Wendy menatap binar mata teman kecilnya penuh bangga.

Tak jauh dari toko roti tempat Kakak Hanzel bekerja, terhampar padang rumput yang mulai menguning pertanda musim semi sudah hampir berakhir. Setiap malam, dari dalam Hutan Elly yang berada di seberang padang rumput tampak mengalunkan nyanyian syahdu. Ada yang menganggap bahwa itu hanya akibat beradunya ranting dan dedaunan di dalam hutan. Namun, tak sedikit yang beranggapan bahwa suara itu adalah nyanyian Hutan Elly menyambut musim gugur, seperti Wendy dan Tommy.

“Kakak Hanzel, malam ini bukannya malam terakhir di musim semi?” Sembari membantu mengumpulkan ranting-ranting kayu di pinggir hutan dan menyerahkannya kepada wanita yang masih sibuk dengan sekarung roti yang dapatkan sebagai upah bekerja seharian.

“Ya, betul.” Kakak Hanzel mulai membuat sebuah perapian untuk mengusir rasa dingin karena hembusan angin malam terakhir di musim semi di Kota Eiden.

Sejurus kemudian, suara lantunan dari dalam hutan semakin terdengar. Alunan yang syahdu kadang membuat beberapa warga kota merinding mendengarnya. Namun, tidak bagi ketiga pecinta Hutan Elly ini.

“Kalian tahu, setiap alunan dari Hutan Elly ini terdengar, ada banyak hewan hutan menjadi saksi kehadiran Elly yang meniup seruling hutan.” Kakak Hanzel membuka cerita malam mereka di pinggir Hutan Elly malam itu.

“Ternyata sosok Elly memang benar ada, Kak?” Wendy menerka.

“Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang pernah melihat. Tapi legenda Hutan Elly ini sudah mendarah daging di kalangan Suku Athar, suku asli daerah ini.” Kakak Hanzel mengambil sepotong roti gandum dan memasukkannya ke dalam mulut. “Elly adalah gadis dengan rambut panjang dengan hiasan bunga-bunga hutan, dan gaunnya berwarna hijau menuju kuning atau cokelat dirajut dari dedaunan hutan.”

“Apa kita bisa berjumpa dengannya, Kak?” Tommy ikut penasaran.

“Jika memang dia mengizinkan, mungkin suatu saat kita bisa berjumpa dengannya.” Sekerat roti daging kini masuk ke mulut Kakak Hanzel.

Alunan seruling hutan semakin terdengar jelas dan kini alunannya begitu ceria, membuat Wendy dan Tommy tersenyum ceria.

“Kalian tahu, alunan seruling ini pernah menyelamatkan salah satu warga dari serangan binatang malam.” Kakak Hanzel membersihkan remah roti di tangannya. Wendy dan Tommy menyimak dengan serius. “Waktu itu malam hari, ketika warga tersebut ingin mengambil beberapa potong kayu untuk persediaan musim dingin ternyata sosok beruang tersebut sudah mengincar sejak lama. Saat warga itu tersadar akan kehadiran si beruang, alunan seruling Elly terdengar. Beruang yang tadinya ingin memangsa warga pun jadi seakan jinak. Dia berbalik dan kembali ke dalam hutan. Warga itu pun lega dan bergegas mengambil beberapa ranting pohon yang terjatuh di sekitarnya lalu kembali ke perkampungan.”

“Wah, ternyata sosok Elly menjadi penyelamat, ya?” Mata Wendy berbinar.

“Satu hal yang bisa kita ambil pelajaran dari kisah si warga tadi.” Kakak Hanzel pun mendekati kedua anak yang selalu mendengar setiap kisahnya. “Jangan pernah menunda apapun yang sedang kita kerjakan. Warga tadi bisa saja mengumpulkan ranting kayu beberapa hari bahkan pekan sebelumnya. Namun, karena terlena dan selalu menunda, dia pun menjadi warga terakhir yang mengumpulkan sisa ranting untuk persediaan musim dingin.”

“Baik, Kak.” Wendy dan Tommy mengacungkan jempol tangan kanan mereka ke arah Kakak Hanzel. Mereka pun menghabiskan malam dengan menikmati beberapa kerat roti sebelum akhirnya beranjak untuk kembali ke tempat tinggal mereka di sudut Kota Eiden.


Bantul, 29 September 2019

Ilustrasi oleh Emma Allen


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s