Little Carla

Sudah menjadi sebuah kebiasaan setiap pagi bagi little Carla untuk memberikan makan tiga ekor domba kecil punya Pak Mason. Seperti peliharaannya sendiri, dia sangat menyayangi mereka dan memberi nama mereka Tam, Tim dan Tom. Ketika ibunya, Merry, bekerja di dapur Keluarga Mason, little Carla langsung menuju belakang rumah untuk memberi makan ketiga domba kecil kesayangannya.

“Hey, kamu tinggal di rumah ini?” Seorang anak lelaki dengan pakaian serba cokelat menyapanya suatu pagi. Jason. Seorang anak dari petani yang mengurus ladang baru Keluarga Mason.

Little Carla menggelengkan kepalanya. Gaun kecil merah mudanya pun mengikuti gerakan kepalanya.

“Ibuku membantu di dapur keluarga ini.” Tangan kananya mengelus kepada Tom.

“Aku baru melihatmu hari ini?” Little Carla mengamati Jason dari cara berpakaiannya yang aneh.

“Aku baru datang dari desa seberang pagi ini. Keluargaku membantu lahan pertanian baru di sini.” Jason membenarkan letak topinya. Senyum terkembang dari wajah Carla.

“Baiklah. Salam kenal. Namaku Carla. Senang mendapat teman baru di sini.” Tangan kanan mungil menjulur ke arah Jason. Jason dengan sedikit malu-malu menyahut dan menjabat hangat.

“Jason.”

“Wah, nama yang keren.” Senyum manis kembali terkembang di wajah gadis yang menggemaskan ini. Wajah Jason tersipu.

“Mereka peliharaanmu?” Jason mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Bukan. Tapi aku sangat menyayangi mereka.” Little Carla memperkenalkan ketiga domba kecil kesayangannya pada Jason.

Carla pun menunjukkan sebagian besar dari lingkungan Keluarga Mason yang dia ketahui. Dia sangat senang mengantar Jason berkeliling.

Pada suatu hari, little Carla datang ke rumah Keluarga Mason seperti biasa. Namun, suasana seisi rumah seperti tidak biasa. Setiap dia berkunjung ke rumah yang sudah menjadi rumah keduanya ini, selalu ada suara gelak tawa dari Emily yang tengah bermain dengan Pak Mason, Ibu Mason atau dengan boneka kesayangannya. Tapi tidak dengan hari ini.

Emily adalah putri terakhir dari ketiga anak Keluarga Mason. Selama Carla ikut ibunya bekerja di rumah itu, dia belum pernah sekalipun melihat sosok Emily. Hanya sesekali mendengar suara, tawa, atau bahkan permainan pianonya dari lantai atas. Karena penasaran, little Carla menyelidiki seisi rumah. Walau ibunya selalu melarang dia berkeliling karena tentu tidak sopan, tapi little Carla merasa sesekali tidak mengapa, bukan? Tapi sayang, hasilnya nihil.

Hingga keesokan harinya dia mendengar suara di kamar utama di lantai dua.

“Pepper, bagaimana kondisi Nona Emily?” Terdengar suara ibunya. Little Carla mencuri dengar dari balik pintu.

“Tidak begitu baik, Merry. Sejak kemarin demamnya cukup tinggi. Walau terkadang turun, tapi tanpa kehadiran Pak Mason dan Ibu Mason, dia tidak ingin meminum obatnya.” Miss Pepper, perawat Emily menjawab kekhawatiran Merry.

“Ya, ampun. Kasihan Nona Merry.” Ibunya terlihat sangat khawatir.

Little Carla yang mendengar kondisi Emily pun ikut merasakan kehilangan. Karena selama bekerja di rumah Keluarga Mason, suara piano Emily lah yang selalu menghibur lelahnya setelah membantu ibunya bekerja.

Sudah dua hari ini Pak Mason dan Ibu Mason pergi keluar kota untuk menjenguk kakak Emily yang sedang menempuh pendidikan tinggi. Dan terjadwalkan pekan depan baru kembali. Sedangkan kondisi Emily tidak membaik hanya karena tidak ingin meminum obatnya.

“Carla,” Jason memanggil dari belakang rumah, melihat teman barunya yang masuk ke rumah Keluarga Mason dari pintu dapur dengan tergesa.

“Maaf, Jason. Bisakah kau membantuku untuk memberi makan Tam, Tim, dan Tom? Nona Emily sedang sakit, jadi aku harus turut membantu ibu di dapur.” Tanpa menunggu jawaban teman bermainnya, little Carla langsung masuk ke dapur untuk membantu ibunya menyiapkan bubur untuk Emily. Jason hanya menjawab dengan hembusan napas panjang.

“Ibu, bisakah aku membantu Nona Emily?” Little Carla ingin sosok keceriaan Emily hadir lagi dalam hari-harinya.

Merry menatap putri kesayangannya. Tangannya masih sibuk mengaduk bubur dalam panci yang berada di atas tungku.

“Mungkin aku bukan dokter, tapi setidaknya membuat Nona Emily tersenyum senang kembali mungkin akan mempercepat penyembuhannya.” Little Carla menatap ibunya dengan mata penuh harap.

Merry menggeser panci bubur dari tungku, menyiduknya ke dalam piring sup, meletakkan ke atas baki dan menghampiri putri kesayangannya. “Ibu tahu maksud kamu baik, Sayang. Memang tidak ada yang bisa kita lakukan.” Tangan kanannya mengusap kepala gadis kecil bergaun merah. Little Carla tertunduk. “Tapi siapa tahu Nona Emily mau diajak jalan-jalan di halaman belakang walau sebentar. Mungkin bantuan kecil ini bisa menyenangkan hatinya.”

Little Carla mengangkat kepalanya. Senyum cerah ceria terlukis di wajahnya. Anggukan penuh semangat menyambut perkataan ibunya. Kesempatan baginya untuk berkenalan dengan Nona Emily secara langsung. Walau nanti usahanya tidak berhasil, setidaknya dia bisa berbicara dengan Nona Emily.

Tok … tok …

“Masuk.” Suara Nona Emily terdengar lemah dari dalam kamar. Little Carla membuka pintu dan masuk ke kamar yang bernuansa merah muda dengan nampan berisikan piring sup penuh bubur yang dimasak ibunya.

“Nona Emily, perkenalkan saya Carla, anak Ibu Merry. Saya ingin mengantarkan sarapan pagi untuk Nona.” Carla melontarkan senyum cerah pada sosok gadis muda di balik selimut yang duduk di ranjang.

“Letakkan saja di meja. Aku tidak nafsu makan.” Suara ketus dari gadis yang duduk di atas ranjang tak menggoyahkan semangat Carla.

“Kalau setelah Nona Emily menyantap bubur ini, saya mengajak Nona Emily turun dan berkeliling di halaman belakang, apakah Nona berkenan?” Little Carla mencoba membujuk gadis cantik berambut kuning keemasan dengan pita merah jambu terikat di belakangnya.

“Benarkah itu?”

“Tentu. Saya tidak bohong pada Anda, Nona.” Carla melontarkan senyum cerianya kembali. Hati Nona Emily tergerak. Dia mengangguk senang dan membalas senyuman Carla.

Tidak membutuhkan waktu lama Emily menghabiskan bubur dalam piring yang disuguhkan Carla. Carla pun menemani di sebelahnya tanpa banyak kata.

“Oke, aku sudah selesai.”

Little Carla tersenyum, kemudian mengambil kursi roda tak jauh dari tepi ranjang. Dia membantu Emily untuk duduk di ranjang. Carla baru tahu kalau ternyata Emily memiliki kaki lumpuh total. Itulah sebabnya dia tidak pernah melihatnya keluar dari kamar. Namun, rasa ibanya tidak ditunjukkannya. Carla bergegas menyahut selimut kecil di sofa kemudian menyelimuti kaki Emily.

Carla mendorong kursi roda Emily dan mengarahkannya ke kebun belakang rumah. Dia menunjukkan banyak hal pada Emily, termasuk ketiga domba kecil yang dia rawat setiap hari. Carla juga memetikkan beberapa bunga untuk diletakkan di kamar Emily. Emily tampak tersenyum bahagia.

“Carla, terima kasih. Aku jadi merasa bersalah sudah tidak mengindahkan perkataan Miss Pepper bahkan ibumu, Miss Merry, untuk menjaga kesehatan tubuh.” Emily menatap bunga lili pemberian Carla. “Tidak seharusnya aku manja begini, bukan? Tentu Mom dan Dad akan khawatir jika tahu aku sakit begini.” Carla menjawab dengan senyum tulus.

Tidak jauh dari mereka berada, tampak Miss Pepper dan Merry yang ikut terharu melihat Emily bisa tersenyum ceria kembali. Jika bukan karena keberanian Carla, mungkin Emily tidak akan tersenyum kembali.


Bantul, 30 September 2019

Ilustrasi oleh Marife Gonzalez


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s