Manismu itu … Ngangenin

“Bu, mau temana?” Si kecil Aga memerhatikan ibunya yang sudah rapi dengan daster panjang dan kerudung. Di tangan kanannya menjinjing tas anyaman yang biasa digunakan untuk berbelanja.

“Ibu ke pasar dulu ya, Ga.” Wanita paruh baya itu berjalan menuju pintu depan sembari menata kembali kerudung yang menutup rambut panjang yang sudah lebih dahulu dikepangnya. “Aga sama Nini di rumah ya?” Senyum terlontar dari wajahnya yang putih ke arah anak bungsunya yang asyik bermain mobil-mobilan.

“Aga mau putis ya?” Rentetan gigi seri si kecil Aga yang putih terpampang rapi di sela senyuman manisnya. Wanita yang biasa dipanggil Ibu Inah ini pun membalas permintaan anak bungsunya dengan senyum dan mengangguk perlahan.

Selama perjalanan menuju pasar, Ibu Inah jadi teringat kisah pukis dengan si anak sulungnya. Kue pertama yang langsung membuat Agita selalu meminta dibelikan setiap Ibunya ke pasar.

“Bu, pukis macam rasa ya? Yang beli di Mang Galih itu ya.” Suara manis dan riang selalu terdengar mengiringi langkah Ibu Inah menuju ke pintu. Tak pernah berhenti suara itu terdengar hingga Ibu Inah mengucapkan salam keluar rumah.

‘Agita, kamu apa kabar di sana? Sehat selalu kan? Ibu dan Dek Aga selalu mendoakan kamu agar Allah menempatkanmu di tempat terbaik-Nya.’ Air mata perlahan berlinang.

“Bu, dengan berat hati kami mengabarkan bahwa anak ibu terkena kanker leukimia akut. Jika mengikuti terapi rutin penyakit ini bisa kami tangani.” Laporan dokter di rumah sakit setelah memeriksa kondisi Agita. Agita sempat muntah beberapa kali, demam, hidung berdarah, bahkan sampai gusinya berdarah.

Ibu Inah menahan air mata dan perih hatinya setiap melihat kondisi Agita yang semakin lemah. Ekonomi menjadi alasan Ibu Inah tidak memberikan terapi pada Agita, karena dia hanya bekerja sebagai buruh cuci baju di rumah tetangga. Agita pun hanya dirawat di rumah dengan menghabiskan bantuan obat dari dokter.

“Bu, jangan sedih lagi ya. Gita udah mau pulang. Biar ibu dan Dek Aga tidak terbebani Gita.” Gita terbaring lemah dengan wajah semakin pucat. Ada penutup kepala berwarna jingga yang terbalut di kepalanya, rambutnya sudah mulai rontok.

“Bu, jangan sedih lagi ya. Gita udah mau pulang. …”

Ibu Inah hanya bisa mengusap wajah anak sulungnya sambil menahan air matanya. Tak berapa lama napas Agita tak terdengar lagi. Air mata yang sedari tadi ditahan kini memberontak membasahi pipi wajah wanita berparas cantik yang sudah dua tahun menjanda.

“Mang, kue pukisnya satu bungkus ya. Campur aja.” Ibu Inah menyodorkan uang kertas lima ribuan.

“Udah, ambil aja, Bu. Hitung-hitung biar Dek Aga gak sedih lagi karena kakaknya udah gak ada.” Mang Galih menolak uang yang disodorkan Ibu Inah. “Saya turut berduka ya, Bu.” Ibu Inah terharu. Sembari menyimpan uangnya ke dalam dompet, dia mengangguk perlahan. Ibu Inah meletakkan kue pukis pesanan Aga ke dalam tas belanjaannya yang sudah setengah penuh untuk kebutuhan makan sehari-sehari selama sepekan.

“Makasih ya, Mang.” Ibu Inah pun berjalan pulang.

‘Masih ada yang mengenang kamu, Nak. Anak ibu yang manis.’

…………………
Ditulis oleh : Dessi Rahma Sulistiyani
Ilustrasi : instagram @harousel

#ceritamini#ceritapendek#ceritafiksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s